Nasehatku Bagi Ahlus Sunnah (2)

Solusi Dari Perselisihan Yang Timbul Antara Ahlus Sunnah Dewasa Ini

Sesungguhnya perselisihan yang terjadi antara Ahlus Sunnah akan hilang dengan ijin Allah dengan beberapa hal :

1. Bertahkim kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Allah berfirman :
“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada
Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan
hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(An-Nisa’:59)

Allah berfirman :
“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih maka putusannya (terserah) kepada Allah.”
(Asy-Syuuraaa:10)

Allah berfirman :
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau ketakutan, mereka
lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri diantara
mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahui
nya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada
kamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebahagian kecil saja (diantaramu)
(An-Nisaa’:83)

2.  Bertanya pada ahli ilmu dari kalangan Ahlus Sunnah
Allah berfirman :
“Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.
(Al-Anbiyaa’:7)

Sayangnya sebagian penuntut ilmu sudah puas dengan ilmu yang dimilikinya, lalu mendebat
semua orang yang menyelisihinya. Inilah sebab perpecahan dan perselisihan. Imam
at-Tirmidzi meriwayatkan dalam Jami’nya dari Abi Umamah yang berkata: Rasulullah
bersabda :
“Tidaklah suatu kaum tersesat setelah (tadinya mendapatkan) hidayah selain orang-orang
yang senang berdebat, lalu Rasulullah membaca:
“Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud mem
bantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (Az-Zukhruf-58)

3. Berkonsentrasi Menuntut Ilmu
Lalu kalau engkau melihat kelemahanmu bahwa engkau melihat bahwa dirimu bukanlah se
suatu dibandingkan dengan para ulama terdahulu, seperti Al-Hafizh Ibnu Katsir dan orang-
orang sebelumnya dari para tokoh huffazh dalam berbagai bidang.
Jika engkau melihat kepada mereka semuanya, maka itu akan membuat dirimu sibuk dan
tidak sempat mengkritik orang lain.

4. Melihat kepada perbedaan pendapat antara sahabat dan para tokoh ulama setelahnya
Kalau engkau melihat perbedaan mereka, maka akan melihat orang yang menyalahimu
sama denganmu berada dalam keselamatan, kamu tidak akan menuntutnya untuk tunduk
kepada pendapatmu, bahkan kamu tahu bahwa tuntutanmu kepadanya untuk tunduk pada
pendapatmu itu merupakan tindakan memasung faham dan akalnya lalu bertaqlid padamu,
padahal taqlid dalam agama itu haram, Allah berfirman :
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.”
(Al-Israa’:36)
Dan dalil-dalil lain yang dipaparkan dalam kitab Al Imam Asy Syaukani yang berjudul al Qoulul
Mufiid fii Adillatil Ijtihaad wat Taqliid.

5.  Memandang realita dunia Islam yang dikepung oleh bahaya dari berbagai penjuru dan kejahilan
banyak penganut Islam tentangnya.
Sesungguhnya apabila engkau memandang kepada dunia islam, maka hal itu akan membuat
mu sibuk dan tidak sempat memperhatikan saudaramu yang menyelisihi pemahamanmu, lalu
engkaupun mendahulukan yang paling penting dan yang penting, sebab Nabi tatkala mengutus
ke Yaman, Beliau bersabda kepadanya:
“Awal yang harus engkau serukan kepada mereka ialah syahadat bahwa tidak ada sesembahan
yang haq selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah.”
(Muttafaqun ‘Alaihi dari Ibnu ‘Abbas)

Selanjutnya, kami benar-benar telah meneliti permasalahan-permasalahan yang berselisih sepu
tarnya Ahlus Sunnah masa kini (mereka adalah orang-orang yang tidak berbeda pendapat se
bab motivasi hawa nafsu), maka kami mendapati jumlah semua permasalahan itu mendekati
tiga puluh masalah lalu kami bagikan kepada para ikhwan Ahlus Sunnah yang menyebutkan –
insya Allah- semua hadits dengan sanad-sanadnya, memperhatikan ucapan para pensyarah
untuk memahami semua hadits tersebut, kalau dibutuhkan untuk melihat ke kitab-kitab fuqaha
maka dilihat kesana, sesudah itu insya Allah akan disebarkan dalam bentuk buku kecil.

Telah sampai kabar kepadaku bahwa Ahlus Sunnah yang memperhatikan persoalan kaum mus
limin benar-benar sangat merindukan hal ini. Dengan ini juga -insya Allah- akan memotong
lidah para pendengki Ahlus Sunnah, orang-orang yang mengejek mereka dengan kalimat “Mere
ka berselisih dalam perkara yang sangat kecil”, pendengki itu membuat manusia lari dari Ahlus
Sunnah dan mencela mereka secara dusta, begitulah keadaan para ahli bid’ah dan budak hawa
nafsu di setiap masa dan tempat, mereka membuat orang lari dari Ahlus Sunnah.
Ibnu Qutaibah telah menyebutkan banyak sekali ucapan mereka yang mengejek Ahlus Sunnah
dalam kitabnya Ta’wil Mukhtalafil Hadits.

Telah mati an-Nazhzham, Abul Huzail, dan lain-lain dari para musuh Sunnah, sementara
Sunnah Rasulullah tetap putih jernih tidak terkeruhkan oleh ejekan mereka. Demikian pula para
musuh Sunnah masa ini akan mati semuanya, lalu Sunnah Rasulullah tetap kekal, sebab Allah
telah menjamin penjagaannya, Dia berfirman:
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar
memeliharanya.” (Al-Hijr:9)

Adz Dzikr mencangkup Al-Qur’an dan As-Sunnah, sebab keduanya wahyu dari sisi Allah, Allah
berfirman :
“dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya
itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (An-Najm:3-4)
Dan Nabi bersabda :
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya saya telah diberikan Al-Qur’an dan yang semisal bersama
nya.”

Demikianlah, namun bukannya kami menuntut Ahlus Sunnah masa ini untuk tidak berbeda pen
dapat tentang keshahihan hadits atau dhoifnya, serta kami tidak juga menuntut mereka untuk
jangan berbeda pendapat dalam memahami dalil-dalil, sebab ini adalah permasalahan yang te
lah berselisih tentangnya pendahulu mereka sebagaimana yang telah kita ketahui bersama da
lam sejarah mereka.
Bahkan para malaikat yang mulia juga berbeda penadapat, Allah berfirman:
“Katakanlah:”Berita itu adalah berita yang besar, yang kamu berpaling daripadanya. Aku tiada
mempunyai pengetahuan sedikitpun tentang al-mala’ul a’la (malaikat) itu ketika mereka berban
tah-bantahan. (Shaad:67-69)

Sulaiman menyelisihi ayahnya Dawud, Allah berfirman :
“Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, diwaktu keduanya memberikan keputusan mengenai
tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. dan adalah
Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, maka Kami telah memberikan
pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing me
reka telah Kami berikan hikmah dan ilmu.” (Al-Anbiyaa’:78-79)

Dalam Shohihain dari Abi Hurairah dari Nabi,  Beliau bersabda : “Di masa lampau, ada dua
orang perempuan bersama anaknya masing-masing, lalu datang serigala yang membawa lari
anak salah seaorang dari kedua perempuan itu.
Yang satu berkata: “Yang dibawa pergi itu anakmu!”, sedangkan yang satunya berkata,”Yang
dilarikan itu anakmu!”. Keduanya berhukum kepada Dawud, maka Dawud memutuskan untuk
kemenangan perempuan yang lebih tua. Lalu keduanya keluar menemui Sulaiman bin Dawud
kemudian mengabarkannya.
Sulaiman berkata:”Ambilkan saya sikkiin (pisau) agar saya belah anak itu sehingga masing-ma
singnya mendapat bagian.” Segera yang lebih muda berkata,”Jangan kamu lakukan semoga
Allah merahmatimu, anak itu anaknya.”
Malah Sulaiman memutuskan anak itu untuk perempuan yang lebih muda.” Abu Hurairah ber
kata: saya baru mendengarkan kata sikkiin (pisau) dihari itu, sebelumnya kami tidak pernah
menyebutnya selain dengan madyah (pisau).

Itulah nasehatku bagi saudara-saudaraku seagama, Ahlus Sunnah. Saya memohon kepada
Allah agar memberikan kemenangan dan taufiq kepada mereka.
Sholawat dan salam yang banyak atas Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabat
beliau. (Biografi Abi ‘Abdirrahman Muqbil bin Hadi  al-Wadi’i, hal 196-204)

(Dikutip dari buku terjemah berjudul “Mutiara Nasehat Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’I Kepada
Para Penuntut Ilmu dan Salafiyin, Penerbit Pustaka Al-Haura)

Author: Admin