Jawaban Terhadap Syubhat atau Pengkaburan yang Dilakukan oleh Para Mahasiswa yang Belajar Di Tempat Kuliah Ikhtilathiyah (Campur Baur Pria dan Wanita)

Soal:

“Di tempat kami ada sebagian salafiyin yang telah mengenal dakwah salafiyah setahun atau dua tahun atau bahkan lebih. Bersamaan dengan itu mereka masih terus belajar di bangku perkuliahan ikhtilathiyah dan memakai pantaloon dan berkata, “Ini termasuk dalam bab mengambil bahaya yang paling ringan dari dua jenis amalan yang berbahaya.” Dari sisi bahwasanya meninggalkan kuliah tersebut merupakan sebab kedurhakaan kepada orang tua. Dan telah diketahui bersama bahwasanya memakai pantaloon itu lebih ringan bahayanya dari pada durhaka kepada orang tua. Demikian pula belajar di tempat itu. Pertanyaannya, bagaimanakah kebenaran dari ucapan itu? Semoga Allah membalas Asy Syaikh dengan kebaikan.”

Jawab:

“Ucapan ini tidak benar. Bahwasanya mereka belajar di bangku perkuliahan ikhtilathiyah memakai pakaian orang kafir dan berkata, “Ta’atilah orang tua kalian!” Ini tidak benar. Nabi shalallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam berkata, “Tiada ketaatan kepada makhluk dalam kedurhakaan kepada Allah” (HR Bukhari 7145 dan Muslim 1840 dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu)

Juga beliau shalallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam berkata :

“Ketaatan hanyalah di dalam perkara yang ma’ruf.” (Hadits Jabir riwayat Muslim)

Dan Allah berfirman :

Artinya:”Dan apabila keduanya memaksamu untuk berbuat syirik kepadaKu, yang engkau tidak punya ilmu tentangnya, maka janganlah engkau taati keduanya dan tetaplah engkau pergauli keduanya di dunia dengan baik. Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu. Kemudian hanya kepadaKulah tempat kembali kalian. Lalu akan Aku beritakan tentang apa yang telah kalian lakukan.”(Luqman 15)

Maka perkara yang wajib dikerjakan oleh para orang tua dan para anak dan seluruh masyarakat adalah memperhatikan dan mementingkan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Adapun barang siapa yang memerintahkan untuk berbuat maksiat, tidak boleh ditaati siapapun dia. Maka istihsan semacam ini merupakan kehinaan dan pengkaburan fatwa bahwasanya hal tersebut merupakan ketaatan.

Kami berpandangan untuk saudara-saudara kami salafiyin dalam rangka nasihat karena Allah : Jauhilah oleh kalian istihsanaat semacam ini dan juga jauhilah kemaksiatan-kemaksiatan yang bernaung di bawah alasan-alasan seperti ini. Jauhilah!

Allah berfirman :

Artinya:”Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah Dia akan menjadikan jalan keluar baginya. Dan memberinya rezeki dari arah yang tak terduga. Barang siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan mencukupkan kebutuhannya.”(Ath Tholaq 2-3)

Ucapan yang mereka katakan itu tidak benar.

(Al As’ilah Indonesiah 2 ramadhon 1424 H)

Soal:

“Apabila kita mengikuti apa yang telah disebutkan terdahulu, apakah berarti kita menyelesihi hikmah, karena kita tidak memulai dakwah dengan yang terpenting yang mana aqidah merupakan perkara yang terpenting untuk didahulukan dalam berdakwah. Semoga Allah membalas Asy Syaikh dengan kebaikan?”

Jawaban:

“Jawaban yang telah mereka dengar dengan seizin Allah, cukup. Mereka telah terperosok ke dalam kesalahan, bahkan ke dalam kemaksiatan dengan melakukan ikhtilath. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam berkata:

“Hindarilah oleh kalian untuk masuk kepada para wanita!” Mereka berkata, “Wahai Rasulullah! Jelaskanlah kepada kami tentang Al Ham (Ipar)!” Beliau menjawab, “Ipar adalah kematian”

(HR Bukhari no 5232 dan Muslim 2172 dari Uqbah bin ‘Amir radhihallahu anhu)

Allah berfirman:

Artinya:”Dan jika kalian meminta suatu keperluan kepada mereka kaum wanita, mintalah kepada mereka dari balik hijab.”(Al Ahzab 53)

Dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam berkata:

“Hampir-hampir harta yang terbaik bagi seorang muslim adalah kambing. Yang digembalakan di lereng-lereng pegunungan. Dia lari membawa agamanya untuk menghindari fitnah.”(Hadits Abu Said Al Khudri di riwayatkan oleh Bukhari 7088)

Tinggalnya seseorang di suatu lembah dari lembah-lembah pegunungan dengan keadaan kokoh di atas agamanya, maka dia berada pada kemuliaan, kebaikan dan keselamatan dalam agamanya.

Tatkala diriku bernaung di sebuah bukit

Diiringi awan yang mencurahkan hujan di puncak gunung

Yang menjulang tinggi dengan mendung yang menyelimuti

Tatkala daku berada di sebuah lembah yang curam

Seakan-akan di ujung pena diiringi kicauan burung di petang hari

Aku bertetangga di tepi lembah itu

Dengan burung hantu dan burung pipit

Dan itulah tetangga yang paling baik dan utama bagi manusia

Di sana benar-benar jernih sumber kehidupanku

Dan kalau toh tidak maka sumber kehidupan adalah pemandangan yang keruh

Dan bukanlah suatu kehinaan bila seorang yan mulia menyelematkan diri sendiri

Akan tetapi kehinaan itu ketika kelemahannya yang membela

Dan sungguh telah berhijrah Nabi dan shahabatnya sebelumku

Sebagaimana Ja’far telah melarikan diri ke negeri Najasyi

Alangkah indahnya ucapan Ibnu Wazir ini. Semoga Allah merahmatinya.

Manusia itu memungkinkan bagi dirinya untuk beribadah kepada Allah dan nantinya berjumpa dengan Allah Ta’ala dan menyembahNya di atas jalan yang benar walaupun tinggal seorang diri.

Jangan merasa sendirian di atas jalan ini wahai saudaraku. Engkau akan mati sendirian dan dibangkitkan sendirian pula. Apakah engkau ingin duduk bersama masyarakat dan menghinakan kemaksiatan dari sisi engkau membedakan diri dari masyarakat. Tidak benar seperti itu. Hal itu tidak benar. Agama Allah yang benar, menolak pengurasan juga menolak segala pemberontakan terhadap Al Haq juga tidak menerima istihsanat orang-orang dalam perhitungan agama. Dan ini cukup bagi orang yang dikehendaki Allah untuk memilik pandangan tajam kepada Al Haq. Juga bagi orang yang dikehendaki Allah untuk meraih kemuliaan. Dan orang terlihat ingin melepaskan diri. Hendaknya dinasihati kalau orang-orang yang bercampur baur dengan para wanita itu mau menerima nasihat, juga para pemakai pantaloon maka baik sekali. Jika tidak, maka agama ini tidak di tolong dengan jasa orang yang durhaka walaupun hal itu bisa saja terjadi sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam berkata

“Sesungguhnya Allah menolong agama ini dengan orang yang rusak”(HR Bukhari 3062 dan Muslim 111 dari Abu Hurairah)

Akan tetapi kemaksiatan itu merupakan sebuah kehinaan. Maka jangan memperbanyak kehinaan itu dengan kemaksiatan ataupun kekacauan, penipuan terselubung dan kesia-siaan.

(Al As’ilah Al Indonesiah 6 Ramadhon 1424 H)

Penerjemah: Abu Fairuz

Author: Admin