Tadabbur 4 Ayat Dalam Surat Adz-Dzaariyaat (Ayat 55-58)

AYAT 55

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan berikanlah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS adz-Dzaariyaat ayat 55)

Ayat ini menjelaskan bahwa peringatan dalam bentuk ayat-ayat al-Quran maupun hadits-hadits yang shahih berupa janji-janji dan ancaman dari Allah akan memberikan manfaat hanya kepada hati orang yang beriman.

Karena orang yang beriman, jika diingatkan dengan ayat-ayat Allah, mereka akan menerimanya dengan sepenuh jiwa dan ketundukan. Mereka tidak akan berlaku bagaikan orang yang tuli dan buta ketika datang peringatan dari Allah:

“dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang yang tuli dan buta” (QS al-Furqan: 73)

Orang yang mendapatkan manfaat dari peringatan adalah orang yang beriman. Sedangkan orang yang tidak mendapat manfaat dari peringatan adalah orang yang tidak beriman, bisa jadi imannya sudah hilang atau kurang imannya. Karena itu, lihatlah keadaanmu. Jika engkau mendengar peringatan dari ayat-ayat Allah apakah engkau menjadi ingat dan takut. Jika demikian, pujilah Allah karena itu menunjukkan bahwa engkau beriman. Namun, jika dengan adanya peringatan hatimu tidak terpengaruh, tetap saja keras, maka janganlah cela kecuali diri sendiri. Hendaknya engkau segera kembali kepada Allah, hingga bisa mendapat manfaat dari pemberian peringatan dengan ayat-ayatNya. Ayat ini juga menunjukkan bahwa semakin kuat keimanan, semakin besar dan agung manfaat yang diterima seseorang ketika mendapatkan peringatan dari ayat-ayat Allah maupun hadits-hadits Rasulullah shollallahu alaihi wasallam.
(disarikan dari transkrip ceramah Syaikh Ibnu Utsaimin dalam menafsirkan surat adz-Dzaariyaat)

AYAT 56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku” (Q.S adz-Dzaariyaat ayat 56)

Ibnu Abbas berkata: Semua penyebutan ibadah dalam al-Quran maknanya adalah tauhid (Tafsir al-Qurthuby (18/193). Artinya, jika dalam al-Quran terdapat perintah untuk beribadah kepada Allah, maksudnya adalah tauhidkan Allah atau sembahlah (beribadahlah) hanya kepada Allah. Karena itu, makna ayat ini adalah: Tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali agar mereka beribadah hanya kepadaKu.

Ibadah adalah penghambaan. Segala macam perbuatan atau ucapan yang dicintai dan diridhai oleh Allah adalah ibadah. Termasuk juga amalan hati seperti cinta kepada Allah, tunduk; menghinakan dan merendahkan diri, takut, berharap, tawakkal, semuanya adalah ibadah.

Jika di dalam al-Quran dan hadits terdapat perintah terhadap sesuatu, maka sesuatu itu adalah ibadah. Jika Allah dan RasulNya melarang sesuatu, maka meninggalkan sesuatu itu adalah ibadah.

Sebagian Ulama menjelaskan bahwa perasaan yang harus dibangun pada saat beribadah harus mengandung 3 hal:

(i) cinta dengan pengagungan,

(ii) takut, dan

(iii) berharap.

Barangsiapa yang dalam seluruh ibadah hanya mendasari pada cinta saja, maka ia adalah zindiq. Barangsiapa yang dalam seluruh ibadahnya hanya takut saja maka ia adalah Haruri (khawarij). Barangsiapa yang dalam seluruh ibadahnya hanya berharap saja, maka ia adalah Murji’ah. Barangsiapa yang menggabungkan perasaan cinta, berharap, dan takut dalam ibadah-ibadahnya, maka ia adalah seorang yang beriman. Sebagaimana ungkapan ini dijelaskan oleh Ibnul Qoyyim sebagai ucapan sebagian Ulama Salaf.

AYAT 57

مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُون

ِTidaklah Aku menginginkan rezeki dari mereka dan Aku tidak mengharapkan mereka memberi makan kepada-Ku” (QS adz-Dzaariyaat ayat 57)

Ayat ini menjelaskan bahwa ibadah dari seseorang kepada Allah bukanlah karena Allah butuh kepada orang tersebut. Allah tidak butuh dengan ibadah kita, namun justru kita yang sangat butuh untuk beribadah kepada Allah. Semakin baik ibadah yang kita persembahkan kepada Allah, semakin besar manfaatnya kembali kepada kita.

AYAT 58

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Pemberi rezeki yang Memiliki Kekuatan yang Teguh” (QS adz-Dzaariyaat ayat 58)

Allah adalah ar-Rozzaaq, bukan sekedar ar-Raaziq. Kalau ar-Raaziq artinya yang memberi rezeki, sedangkan ar-Rozzaaq adalah yang sangat banyak dan berlimpah dalam memberi rezeki.

Para Ulama menjelaskan bahwa rezeki adalah segala pemberian dari Allah untuk manfaat duniawi dan Dien. Semua nikmat yang kita terima adalah rezeki dari Allah, termasuk ketenangan hati, udara yang nyaman, dan ilmu yang bermanfaat. Sebagian orang menyempitkan makna rezeki hanya pada harta berupa uang dan semisalnya. Padahal, rezeki dari Allah yang kita terima lebih luas dari itu.

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barangsiapa di antara kalian yang berada di waktu pagi dalam keadaan: sehat tubuhnya, perasaan aman dalam hatinya, dan hari itu ada kecukupan makanan, maka seakan-akan telah terkumpul (seluruh kenikmatan) dunia” (HR atTirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan atTirmidzi dan al-Albany)

Allah menjelaskan dalam ayat ini bahwa Dia adalah Sang Maha Pemberi Rezeki dan Pemilik Kekuatan yang teguh (kekuatan yang tidak ada bandingan dan tak terkalahkan). Hal ini adalah sebagai salah satu alasan bahwa Allah tidak butuh dengan apapun dan siapapun. Karena ialah Sang pemberi, tidak butuh pemberian. Dialah Sang Maha Kuat, tidak butuh bantuan. Karena bantuan dan pertolongan hanyalah dibutuhkan oleh pihak yang lemah.

Sumber : WA Group al-I’tishom bis Sunnah – Probolinggo melalui WA Salafy Lintas Negara

Dikirim oleh Al-Ustadz Kharisman Probolinggo

 

Author: Admin