Sepucuk Risalah Untuk Sobatku, RISALAH PERTAMA : PERSAUDARAAN KITA BAK BANGUNAN YANG SATU

Sepucuk Risalah Untuk Sobatku:

بسم الله الرحمن الرحيم

RISALAH PERTAMA

PERSAUDARAAN KITA BAK BANGUNAN YANG SATU

✒ Wahai sobatku yang kucintai…
Perkenankanlah diriku menorehkan pena ini, tuk menuangkan apa yang ada dikalbu ini dalam sepucuk risalah, untuk aku jadikan sebagai lambang cinta seorang sobat, yang kuharap risalah ini menjadi obat, agar persaudaraan kita semakin erat.

Wahai sobatku…
Pada risalah pertama ini, aku ingin mengingatkan bahwa persaudaran kita ini, laksana bangunan yang satu, laksana tubuh yang satu, sehingga apa yang kau rasakan dari kepedihan dan kesedihan, aku pun merasakannya!

Wahai sobatku…
Betapa indahnya suatu persahabatan dan persaudaraan yang dibangun diatas keimanan dan ketakwaan, karena dengan inilah, persaudaraan kita akan semakin kuat dan erat di dunia dan akan terus langgeng sampai di Akherat kelak. Allah Ta’ala berfirman:

{وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ}

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” [QS. Ali ‘Imraan: 103]

{الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ}

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” [QS. Az Zukhruf: 67]

Dari Abu Musa_radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

«الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا» وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ

“Orang mukmin yang satu dengan mukmin yang lain bagaikan satu bangunan, satu dengan yang lainnya saling mengokohkan.’ Kemudian beliau menganyam jari-jemarinya.” [HR. Al Bukhari – Muslim]

Dalam hadits An Nu’man bin Basyir_radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

«مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى»

“Orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya)’.” [HR. Al Bukhari – Muslim]

Dalam hadits Sahl bin Sa’ad_radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

«إِنَّ الْمُؤْمِنَ مِنْ أَهْلِ الْإِيمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ يَأْلَمُ الْمُؤْمِنُ لِأَهْلِ الْإِيمَانِ كَمَا يَأْلَمُ الْجَسَدُ لِمَا فِي الرَّأْسِ»

“Orang mu`min bagi ahli iman seperti kedudukan kepala bagi tubuh, rasa sakit seorang mu`min bagi ahli iman seperti tubuh merasa sakit karena (penyakit) yang ada di kepala.” [HR. Ahmad, dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no 1137]

Wahai sobat…
Betapa banyak telah kita dengar ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, baik dalam khutbah, muhadharah ataupun dalam pelajaran guru kita, tentang arti dan hakekat persaudaraan yang dibangun diatas keimanan dan hak-hak muslim yang harus ditunaikan oleh muslim yang lainnya.

Wahai sobat…
Jika kita telah sering mendengarnya, apakah kita sudah mengamalkannya? Apakah kita telah merealisasikannya dalam kehidupan kita? Sudahkah kita mengaplikasikannya pada diri kita? Apakah engkau ikut merasa sedih tatkala mendengar saudaramu kelaparan, berduka cita, dipenjara, disiksa atau sedang tertimpa bencana? Ataukah hal tersebut tidak berpengaruh sama sekali di kalbumu, tidak ada rasa kesedihan dalam kalbumu?

Wahai sobat…
Dengarlah mutiara nasehat berharga dari para Salaf kita ini:

Berkata Ali bin Abi Thalib_radhiyallahu ‘anhu: “Tidaklah seseorang menjadi teman (sejati) sampai dia bisa menjaga saudaranya dalam tiga hal: ketika tertimpa musibahnya, ketika tidak hadir dan ketika telah meninggal.”

Dikatakan kepada Khalid bin Shafwan_rahimahullah: Siapakah teman yang paling kau cintai? Beliau menjawab: “Teman yang dapat menutupi kekuranganku, memamaafkanku jika salah dan mau menerima alasanku.”

Berkata Ibnul Qayyim_rahimahullah: “Barangsiapa bersikap lemah lembut terhadap hamba-hamba Allah, maka Allah akan berlemah lembut kepadanya dan barangsiapa menyayangi mereka, maka Allah pun akan menyayanginya. Barangsiapa berbuat baik kepada mereka maka Allah pun akan berbuat baik kepadanya. Barangsiapa yang dermawan kepada mereka maka Allah pun dermawan kepadanya. Barangsiapa yang memberikan mereka manfaat maka Allah pun akan memberikan manfaat kepadanya. Barangsiapa yang menutupi aurat mereka, maka Allah pun akan menutup auratnya. Barangsiapa yang memaafkan kesalahan mereka, maka Allah akan memaafkan kesalahannya. Barangsiapa yang berusaha mencari-cari aib-aib mereka, maka Allah pun akan berbuat demikian kepadanya. Barangsiapa yang menjatuhkan harga diri mereka, maka Allah pun akan jatuhkan harga dirinya dan membongkarnya….” [Al Wabil Ash Ashoib hal 35]

Wahai sobatku!
Inilah hakekat persahabatan dan persaudaraan. Inilah yang dituntunkan Islam kepada kita. Oleh karena itu, marilah kita bangun persaudaraan kita ini diatas keimanan dan ketakwaan, sehingga kita bisa mendapatkan mahkota kemulyaan dan istana yang kita rindukan dan yang Allah janjikan.

Nabi shallallhu ‘alaihi wasallam bersabda:

«سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: – منهاوَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ».

“Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah, pada hari dimana tidak ada naungan selain naungan-Nya: – diantaranya -: dua orang yang saling mencintai karena Allah yang mereka berkumpul karena-Nya dan juga berpisah karena-Nya.” [HR. Al Bukhari – Muslim, dari shahabat Abu Hurairah]

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

«ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ».

“Tiga perkara jika itu ada pada seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman; orang yang mana Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, mencintai seseorang yang ia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran tersebut sebagaimana ia benci untuk masuk neraka.” [HR. Al Bukhari – Muslim, dari shahabat Anas]

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

«قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: المُتَحَابُّونَ فِي جَلَالِي لَهُمْ مَنَابِرُ مِنْ نُورٍ يَغْبِطُهُمُ النَّبِيُّونَ وَالشُّهَدَاءُ».

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Orang-orang yang saling mencintai karena keluhuranKu, mereka mendapatkan mimbar-mimbar dari cahaya yang membuat para nabi dan syuhada`iri.” [HR. At Tirmidzi, dari shahabat Mu’adz bin Jabal, dishahihkan Syaikh Al Albanai dan Syaikh Muqbil]

Berkata Bilal bin Sa’ad: “Seorang teman yang mana setiap kali berjumpa denganmu, dia mengingatkanmu tentang perjumpaan dengan Allah, itu lebih baik dari teman yang mana setiap kali kau berjumpa dengannya memberimu dinar.”

Berkata Syaikhul Islam_rahimahullah: “Barangsiapa mencintai seseorang bukan karena Allah, maka kerusakan teman-temannya itu lebih besar dari pada kerusakan yang berasal dari musuh-musuhnya. Karena sesungguhnya musuh-musuhnya, tujuan mereka hanya berusaha menghalangi antara dia dengan yang dia cintai dari perkara-perkara dunia, sedangkan penghalangan tersebut (pada hakekatnya) merupakan rahmat untuknya. Adapun teman-temannya, akan berusaha menghalangi dan menghilangkan rahmat tersebut darinya. Teman-temannya berusaha membantunya agar apa yang dia cintai (dari perkara dunia) agar tetap ada padanya, sehingga mereka bisa ikut menggunakannya untuk tujuan-tujuan mereka dan apa saja yang mereka sukai, maka kedua hal ini sama-sama merusak. Allah berfirman:

{إذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ}

“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. [QS. Al Baqarah: 166]

Berkata Al Fudhail bin ‘Iyadh, dari laits, dari mujahid, ia berkata: “dia (ayat tersebut) adalah kasih sayang yang dibangun untuk selain Allah dan persahabatan diantara mereka karena dunia.

{وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا كَذَلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ}

“Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” [QS. Al Baqarah: 167]

Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka, yaitu amalan yang mereka lakukan di dunia bukan karena untuk Allah, diantaranya adalah saling tolong-menolong, bersahabat dan mencintai bukan karena Allah.

Segala bentuk kebaikan hanyalah pada peribadahan kepada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan tidak ada daya dan upaya melainkan milik Allah. [Majmu’ Al Fatawa 10/605-606]

Demikianlah risalah pertama ini kukirimkan.

Kita memohon kepada Allah, semoga Allah Ta’ala menjadikan persahabatan dan persaudaraan kita dibangun karena Allah. Dan semoga Allah ta’ala menjauhkan kita dari segala hal yang bisa merusak persaudaran kita.

✏ Dari sobatmu yang mencintaimu karena Allah;
Abu ‘Ubaidah Iqbal bin Damiri Al Jawy_2 Sya’ban 1435/ 31 Mei 2014_di Daarul Hadits Al Fiyusy_Harasahallah.

~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~

Sumber : WA Thullab Al Fiyusy melalui WA Salafy Lintas Negara

Author: Admin