OPERASI SERANGAN MILITER “BADAI YANG KOKOH (‘ASHIFATUL HAZM) adalah JIHAD YANG SYAR’I, dan Bantahan terhadap pihak yang menyatakan bahwa itu adalah Fitnah dan Terlarang

OPERASI SERANGAN MILITER “BADAI YANG KOKOH (‘ASHIFATUL HAZM) adalah JIHAD YANG SYAR’I, dan Bantahan terhadap pihak yang menyatakan bahwa itu adalah Fitnah dan Terlarang

asy-Syaikh al-‘Allamah ‘Ubaid al-Jabiri hafizhahullah dalam acara LIQA MAFTUH, Jum’at 8 Jumadal Akhirah 1436 H

Sebelum kita membahas tentang lanjutan ayat al-Mai’idah, aku ingin menyempurnakan apa yang aku dengar dari khutbah yang diberi taufiq dan barakah – insya Allah Ta’ala – yang disampaikan oleh saudara kami sekaligus murid dan shahabat kami, asy-Syaikh ‘Abdul Wahid bin Hadi bin Ahmad Thalibi al-Madkhali. Aku ingatkan dengan dua perkara :

PERKARA PERTAMA : Jangan ada yang mengira bahwa apa yang dilakukan oleh DAULAH TAUHID dan SUNNAH, yaitu Daulah (Negara) KERAJAAN ARAB SAUDI – semoga Allah menjaga negara Saudi dan negara-negara Islam lainnya dari berbagai kejelekan dan keburukan – merupakan semata-mata serangan. Namun serangan tersebut MEMENUHI PERMINTAAN TOLONG. Ketika Pimpinan Muslimin negeri Yaman negeri tetangga, yang mayoritas penduduknya berada di atas sunnah dan tauhid – alhamdulillah – meminta pertolongan secara langsung kepada Khadimul Haramain Raja Salman – waffaqahullah – dan negara-negara Teluk, maka PERMINTAAN TERSEBUT HARUS DIPENUHI.  Tidak diragukan bahwa Presiden Yaman Abduh Rabbi bin Manshur bin Hadi berbicara tentang kondisi penduduk negerinya dan apa yang menimpa mereka yaitu musibah Rafidhah Kafir Bathiniyah TERLAKNAT, kelompok Hutsiyyah, kaki tangan IRAN. Maka wajib adanya PEMBELAAN!!

Adapun penduduk Yaman, setiap Mukallaf yang mampu berjihad dengan hartanya, atau harta dan jiwanya sekaligus, maka BERGERAK untuk berjihad melawan kelompok terlaknat tersebut adalah FARDHU ‘AIN atas setiap individu. Karena Pemerintah dan pimpinan mereka telah menyeru dan menggerakkan mereka (untuk berjihad) dengan SERUAN UMUM/SEMESTA. Tidak ada lagi Fardhu Kifayah. Atau tidak ada lagi seorang yang wajib atasnya jihad sekarang ini dari penduduk Yaman, yang hukumnya Fardhu Kifayah. Barangsiapa yang mengatakan bahwa hukum fardhu kifayah, maka dia JAHIL, Jahil, LEBIH SESAT daripada keledai keluarganya.

PERKARA KEDUA : Para Muhaqqiq (Peneliti) dari kalangan Ulama Sunnah, di atas pendapat bahwa Rafidhah dan Jahmiyyah keluar dari kelompok-kelompok Islam, karena mereka adalah KAFIR. Perpecahan umat yang disebutkan oleh saudara dan shahabat kami, sekaligus murid kami dan khathib kita hari ini, yang dimaksud adalah kelompok-kelompok Islam, kelompok-kelompok yang fasiq, para pelaku maksiat dan dosa besar. Adapun kelompok yang KAFIR maka tidak termasuk kelompok-kelompok Islam. Mereka di luar 73 kelompok.

Kemudian, ada perkara KETIGA, yaitu apa yang dinukilkan oleh Syaikhul Islam – rahimahullah – bahwa IJMA (Kesepakatan) atas DIPERANGINYA RAFIDHAH dan KHAWARIJ apabila menyempal (memberontak) terhadap Jama’ah (negara muslimin).

Sementara Hutssiyyah Bathiniyyah Jarudiyyah para kaki tangan IRAN pada masa ini, mereka ada PARA PEMBERONTAK TERHADAP JAMA’AH (Negara muslimin). Bahkan, mereka tidak hanya menyempal/ memberontak dalam perkara yang wajib bersatu padanya, tapi juga MENYEMPAL/MEMBERONTAK dalam agama.
Mereka tidak beragama dengan agama Islam.

Dari sini, aku PERINGATKAN bahwa ucapan sebagian orang yang menisbahkan diri kepada ilmu di Yaman, yang dulu kami mengira bahwa dia termasuk masyaikh Sunnah, namun ternyata – wal’iyyadzu billah – menjadi “Khayyasy” (penjual goni) bukan termasuk masyaikh; dia MENGINGKARI peledakan masjid-masjid – yaitu masjid-masjid Rafidhah – dia menyeru dan meneriakkan hal ini, menangatkan suaranya.

SUBHANALLAH!!!

Di mana kamu ketika masjid-masjid Ahlus Sunnah di Shan’a diledakkan??!

Aku mengira bahwa ini – wahai miskin – adalah sebagai kelanjutan dari ucapanmu yang sudah kami dengar sekitar dua bulan lalu, yaitu celaan terhadap para mujahidin melawan Husyiyun, bahwa mereka (mujahidin) sedang memerangi sesama muslimin.

Yang dipahami dari pernyataanmu, bahkan merupakan isyarat yang tidak perlu ungkapan, bahwa KAMU BERKEYAKINAN mereka (Hustiyyin Rafidhah) adalah muslimin, wahai miskin.

Maka wahai kaum muslimin dan muslimat mohonlah kepada Allah kekokohan di atas Sunnah, dengan ucapan yang tsabit di kehidupan dunia dan akhirat.

Sumber audio

http://ar.miraath.net/sites/default/files/friday_meeting%20with_sh_ubayd_029_01.mp3
1.99 MB

sumber transkrip

http://ar.miraath.net/article/11106

Majmu’ah Manhajul Anbiya

( عاصفة الحزم جهاد مشروع وردٌ على من يزعم بأنه فتنة وممنوع )
لفضيلة الشيخ العلامة:
عبيد بن عبد الله الجابري
-حفظه الله تعالى ورعاه-
[ من لقاء الجمعة في جامع الرضوان بالمدينة
بتاريخ ٨ جمادى الثانية عام ١٤٣٦هـ ]
آلهِ وصحبهِ أجمعين.
أما بعد ..
فَقبل الحديث عن بقية آية المائدة أُحبُّ إكمالًا لِمَا استمعناهُ من الخُطبة الموفقة المباركة – إن شاء الله تعالى- من أخينا وتلميذنا وصاحبنا الشيخ عبد الواحد بن هادي بن أحمد طالبي المدخلي:
فأذكرُ أمرين:
الأمر الأول: لا يظنُّ ظان أنَّ ما قامت بهِ دولة التوحيد والسُّنّة، دولة المملكة العربية السعودية – حفظها الله- وسائر بلاد الإسلام من كُلِّ سوءٍ ومكروه هو حربٌ مُجرَّدة، بل هو إجابة استنصار، فمادامَ أنَّ إمامَ المُسلمين في اليَمن الجَارَة التي غالبية أهلها – ولله الحمد- على سُنَّة وَتَوحيد؛ قد استنصّر مُباشَرَةً بخادم الحرمين الملك سلمان – وفقّهُ الله- ودول الخليج فلابُدَّ من إجابة استنصاره، ولا شكَّ أنَّهُ – أعني الرئيس اليمني عبد ربهِ بن منصور بن هادي- يتحدثُ عن أهلِ بلدهِ، وما أصابهم من مُصيبة الرافضة الكافرة الباطنية الملعونة الطائِفة الحوثية سفيرةُ إيران، فوجَبَ النَّصر.
وأما أهلُ اليمن فكُلُ مُكلَّف قادِر على الجهاد بنفسهِ ومالِه أو بِماله أو بِنفسه فالنَّفير لجهاد هؤلاء الطائفة الملعونة فرضُ عينٍ على كل واحدٍ من هؤلاء، لأنَّ وليّ أمرهِم إمامهم دعاهُم استنفرهم الاستنفار العام، فليس هناك فرض كفاية، أو ليس هناك أحدٌ عليه الجهاد في هذه اللحظة من أهل اليمن فرضُ كفاية، ومن قالَ إنَّهُ فرضُ كفاية فهو جاهل، جاهل أضلُّ مِن حِمارِ أهله.
>الأمر الثاني: المُحقِّقون من عُلماء السُّنَّة على أنَّ الرافضة والجهميّة خارِج الفِرَق الإسلامية لأنهم كُفَّار، فافتراق الأُمم الذي أشارَ إليه أخونا وصاحبُنا وتلميذنا خطيبنا هذا اليوم المقصود بهِ الفِرَق الإسلامية؛ الفُسَّاق، أهل المعاصي، أهلُ الكبائِر، أمَّا الكُفَّار فليسوا من الفِرَق الإسلامية، هم خارِج الثلاث والسبعين فِرقة.
وثَمَّةَ أمرٌ ثالِث وهو ما نقلهُ شيخ الإسلام ابن تيمية – رحمهُ الله- من الإجماع على قِتال الرافضة والخوارِج إذا فارقوا الجماعة، والحوثية الباطنية الجاروديّة سفيرةُ إيران في هذا العصر، هُم مُفارِقون للجماعة، بل ليست مُفارَقة في أمرٍ يجبُ الاجتماعُ عليه فقط، بل هي مُفارِقَة في الدِّين، فهي لا تدينُ دين الإسلام.
ومن هنا نُنَبِّه إلى أنَّ قول بعض المُنتسبين إلى العلمِ في اليمن، وكُنا نظنهُ من أشياخ السُّنّة، وصار والعياذُ بالله من الخياش ليس من الأشياخ؛ يستنكر تفجير المساجِد – مساجِد الرافضة- ويصيح ويصرخ بهذا ويرفع بهذا عقيرته، سبحان الله! أينك حينما فُجِّرت مساجد أهل السُّنّة في صنعاء؟! أظنُّ أنَّ هذا يا مسكين امتدادًا لقولك الذي سمعناهُ قبل نحو شهرين من العيبِ على أهلِ جهاد الحَوَثَة وأنهم يُقتِّلونَ المسلمين، فمفهومُ كلمتَك بل إشارة التي تُغني عن عبارة تدلُّ على أنكَ تعتقد أنهم مُسلِمون يا مسكين.
فاسألوا الله أيها المسلمون والمسلمات الثبات على السُّنة بالقولِ الثابت في الحياة الدنيا وفي الآخرة.
مجموعة منهج الأنبياء

Author: Admin