Keutamaan Zikir dan Dorongan Untuk Berdoa

Al-Ustadz Idral Harits

Doa adalah amalan yang paling mulia di sisi Allah تعالى

Al Imam al-Khaththabi رحمه الله menyatakan bahwa hakikat doa ialah menampakkan rasa butuh kepada Allah تعالى, tidak bersandar pada daya ataupun kekuatan diri sendiri. Inilah ketinggian ‘ubudiyah (penghambaan diri) sekaligus kehinaan diri sebagai manusia. Di dalam doa tersirat makna pujian kepada Allah تعالى  dan penisbahan sifat Maha Dermawan dan Maha Pemurah kepada-Nya1.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,

الدعاء هو العبادة

“Doa itu ibadah.”2

Doa, baik terkabul maupun tidak, adalah ibadah. Sebab, orang yang berdoa berarti menampakkan ketidakberdayaannya sebagai seorang hamba, betapa butuhnya dia kepada Allah تعالى, dan pengakuannya -walaupun tidak terucap- bahwa Allah Maha Kuasa untuk mengabulkan doanya. Allah Maha Pemurah dan Maha Memberi, tidak kikir sehingga menyimpan semuanya untuk diri-Nya sendiri3.

Setelah menyampaikan hadits diatas, Rasulullah صلى الله عليه وسلم membacakan firman Allah تعالى,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Rabb kalian berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagi kalian. Sesungguhnya, orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’.” (Ghafir: 60)

Oleh sebab itulah, Allah تعالى  menutup ayat ini dengan firman-Nya,

إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي

“Sesungguhnya, orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku …”

Menyombongkan diri dalam ayat ini adalah ungkapan tentang tidak adanya sikap merasa rendah, tunduk, dan butuh kepada Allah تعالى. Dengan kata lain, orang-orang yang tidak mau berdoa adalah manusia yang sombong kepada Allah تعالى, tidak mau tunduk, dan tidak pula merasa butuh kepada-Nya.

Tidakkah anda memerhatikan, Allah تعالى memulai kitab-Nya yang mulia (al-Qur’anul Karim) dengan doa, dan menutupnya dengan doa pula.

Al-Fatihah adalah surat pertama yang terdapat di dalam mushaf al-Qur’anul. Surat ini berisi doa paling utama dan tujuan yang paling sempurna. Di dalamnya ada permohonan hidayah menuju ash-shiratal mustakim dan meminta pertolongan dalam menjalankan ibadah serta menaati Allah تعالى.

Adapun surat terakhir, yaitu an-Naas, yang menutup lembaran-lembaran al-Qur’anul Karim, juga mengandung permintaan kepada Allah تعالى, yaitu memohon perlindungan dari kejahatan bisikan dan godaan setan yang senantiasa berbisik di dada manusia.

Kenyataan ini menunjukkan kepada kita betapa agungnya kedudukan doa. Bahkan, doa adalah ruh dan inti ibadah.

Apabila kita mengenal Allah تعالى  dengan sempurna, semakin eratlah hubungan kita dengan Allah تعالى dan semakin besarlah semangat berdoa kepada Allah تعالى. Kerendahan diri di hadapan Allah تعالى dan rasa butuh kita kepada Allah تعالى semakin besar pula.

Itulah kedudukan yang telah diraih oleh para nabi dan rasul Allah تعالى. Mereka adalah hamba-hamba Allah تعالى yang paling jelas menampakkan rasa butuh kepada Allah تعالى dalam setiap keadaan, baik susah maupun senang.

Allah تعالى  berfirman menerangkan sebagian sifat mereka,

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan baik, dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (al-Anbiya’: 90)

Wallahul Muwaffiq.

 

Footnote

1)      Syarh al-‘Aqidah ath-Thahawiyah (2/678

2)      HR. at-Tirmidzi (3427) dari an-Numan bin Basyir

3)      Tuhfatul  Ahwadzi, dengan sedikit perubahan

 

Dikutip dari Majalah Qonitah vol.1/edisi 01 1434 H – 2013 M, halaman 4 – 6

Diketik ulang oleh Darussalaf.Or.Id

 

Author: Admin