Bolehkah Mengamalkan Bid’ah yang Kecil Untuk Alasan Menyatukan Orang Awam?

BOLEHKAH MENGAMALKAN BID’AH YANG KECIL UNTUK ALASAN MENYATUKAN ORANG AWAM

Fatawa Asy-Syaikh Muqbil Rahimahullah

——————–

Soal:

Apakah boleh mengamalkan sebagian bid’ah yang kecil dengan alasan karena perkara-perkara ini membuat mereka (orang-orang awam) menghindar dengan pandangan benci, padahal disana kita ingin menyatukan hati-hati mereka dan menyeru mereka kepada dakwah tauhid dan agar tidak menyekutukan Allah?

 Jawaban:

Tidak boleh kita mengamalkan segala bentuk kebid’ahan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak menerima taubat dari pelaku kebid’ahanan sampai dia meninggalkan kebid’ahannya”.

Dan sebagaimana pula diriwayatkan dalam Ash Shahihain dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang membuat perkara baru dalam urusan (agama) kami, padahal kami tidak perintahkan, maka hal itu tertolak.”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

“Sesungguhnya siapa saja diantara kalian yang hidup (setelahku), maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnahnya para Khulafa yang telah mendapatkan petunjuk, gigitlah dengan gigi geraham”.

Kita tidak memiliki kekuasaan dalam agama Allah, oleh karena itu, Allah berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ

“Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu…”. [QS. Ali ‘Imraan: 128]

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَوْلَا أَن ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا. إِذًا لَّأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرًا

“Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka. Kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami. [QS. Al Isra: 74-75]

“HATI-HATILAH KALIAN DARI MEMAKAI PERASAAN DALAM AGAMA ALLAH!”

Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih penyayang kepada hamba-hamba-Nya dan lebih cemburu terhadap agama-Nya daripada kita.

Hanyalah kepada Allah, kita memohon pertolongan.

Sumber: http://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=838

〰〰〰〰〰

WA Forum KIS

 

Author: Admin