HAKEKAT PUASA YANG SEBENARNYA

Berkata Al Imam Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah rahimahullah Ta’ala :

Orang yang puasa adalah orang yang berpuasa (menahan diri) :
– anggota badannya dari perbuatan dosa,
– lesannya dari berkata dusta, keji dan ucapan sia-sia,
– perutnya dari makan, minum serta
– kemaluannya dari bersenggama

Maka jika ia bicara tidaklah ia berbicara yang bisa membuat cacat puasanya, jika berbuat tidaklah ia berbuat yang bisa merusak puasanya, sehingga akan keluar ucapannya yang kesemuanya adalah bermanfaat lagi baik nilainya.

Demikian juga perbuatannya maka ia laksana bau harum yang semerbak tercium orang yang duduk dekat penjual parfum minyak wangi, sama permisalan dengan duduk disisi orang yang puasa akan bermanfaat kala duduk bersamanya, selamat dari ucapan palsu dan dusta, keji dan yang tidak semestinya.

Demikianlah puasa yang sebenarnya yang dituntunkan bukanlah hanya sekedar menahan diri dari lapar dan dahaga, disebutkan dalam hadits yang shahih Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلِيْسَ ِللهِ حَاجَةٌ فِيِ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan kebohongan, maka Allah tidak butuh orang itu meninggalkan makanan dan minumannya (puasanya)” ( HR. Al Bukhari ( 1903) dari shahabat Abu Hurairah Radhiyallohu ‘anhu)

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa bagian dari puasanya (hanya) lapar dan dahaga” (HR. Ibnu Majah (1690), Ahmad (8639) dari hadits Abu Hurairah radhiyalloohu ‘anhu dan dinyatakan hadits shahih oleh Syaikh Al Albani di Shahih Al Jami’ (3488, 3490)

Maka puasa itu adalah puasanya segenap badan dari berbagai dosa, dan puasanya perut dari minuman dan makanan dengan berbagai ragamnya.
Sebagaimana makanan dan minuman bisa membatalkan dan merusak puasa maka demikian juga dosa-dosa, ia dapat menghilangkan pahala puasa dan merusak buahnya sehingga kedudukannya seperti orang yang tidak berpuasa. – na’udzubillahi min dzalika-

(Kitab Al Wabilu Ash Shoyyib min Al Kalimi At Thoyyib hal 31 -32 karya Al Imam Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah. Cet. Darul Istiqomah )

– Diterjemahkan Oleh Abu Abdillah Muhammad Rifa’i
– Selasa 1 Ramadhan 1442 H di Ma’had Darussalaf Al Islamy Km. 10 Jl. Poros Bontang-Samarinda

– WhatsApp Kajian Ilmiyyah Bontang

Author: Administrator